Detail Produk
PEREMPUAN YANG DIPAPAH TAKDIR
Novel karya Rohani Din. Editor Dikdik Sadikin.
Rohani Din atau yang biasa disapa dengan sebutan Bunda Dien adalah sastrawati Singapura yang dikenal luas di Indonesia. Banyak buku-bukunya yang terbit di Indonesia. Ia juga seriung diundang dalam pertemuan-pertemuan para penulis di Indonesia.
Ia menulis sebagai seorang lansia, dengan tubuh yang tak lagi utuh seperti dulu, dengan penyakit yang datang silih berganti, dengan peristiwa-peristiwa tragis bahkan kadang mistis dalam perjalanannya, dengan operasi yang kejam dan mengerikan, dan dengan rasa sakit yang tak selalu bisa dijelaskan. Tetapi dari sana, lahir kesabaran. Dan dari kesabaran itu, tumbuh kedekatan: kepada Yang Maha Kuasa, kepada sesama, kepada semesta yang masih setia memberi tanda.
Pengembaraan dalam novelnya bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah perjalanan batin. Ia berjalan, meski tubuhnya rapuh, menyusuri ruang-ruang yang bukan hanya geografis, tetapi juga spiritual. Ia mencatat detail: orang-orang yang ditemui, sejarah yang tersimpan, lanskap yang dilihat, bahkan getaran kecil yang sering luput dari perhatian.
Bahasanya puitis, tetapi tidak dibuat-buat. Ia mengalir seperti seseorang yang sedang bercerita di beranda, di antara sore yang mulai turun. Dan di situlah pembaca diajak masuk. Tanpa paksaan, tanpa kesan menggurui.
Tebal 346 halaman
KKK, 2026
Novel karya Rohani Din. Editor Dikdik Sadikin.
Rohani Din atau yang biasa disapa dengan sebutan Bunda Dien adalah sastrawati Singapura yang dikenal luas di Indonesia. Banyak buku-bukunya yang terbit di Indonesia. Ia juga seriung diundang dalam pertemuan-pertemuan para penulis di Indonesia.
Ia menulis sebagai seorang lansia, dengan tubuh yang tak lagi utuh seperti dulu, dengan penyakit yang datang silih berganti, dengan peristiwa-peristiwa tragis bahkan kadang mistis dalam perjalanannya, dengan operasi yang kejam dan mengerikan, dan dengan rasa sakit yang tak selalu bisa dijelaskan. Tetapi dari sana, lahir kesabaran. Dan dari kesabaran itu, tumbuh kedekatan: kepada Yang Maha Kuasa, kepada sesama, kepada semesta yang masih setia memberi tanda.
Pengembaraan dalam novelnya bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah perjalanan batin. Ia berjalan, meski tubuhnya rapuh, menyusuri ruang-ruang yang bukan hanya geografis, tetapi juga spiritual. Ia mencatat detail: orang-orang yang ditemui, sejarah yang tersimpan, lanskap yang dilihat, bahkan getaran kecil yang sering luput dari perhatian.
Bahasanya puitis, tetapi tidak dibuat-buat. Ia mengalir seperti seseorang yang sedang bercerita di beranda, di antara sore yang mulai turun. Dan di situlah pembaca diajak masuk. Tanpa paksaan, tanpa kesan menggurui.
Tebal 346 halaman
KKK, 2026






